Rabu, 22 Februari 2012

Kenangan dengan bapak kost ku


Sore itu cuaca begitu buruk, langit tampak gelap dengan gerimis yang mulai turun. Aku sendiri bete banget di kost-kost-an, sepi. Pak Hendry bapak kostku masih di kantor, ibu kost ngurusin bisnisnya di luar kota dan kedua anak ibu kost kuliah di Jakarta, itu pula yang mungkin menjadi alasan mereka mau 'menampung' aku, 'dari pada sepi'. Yang kost di rumah ini memang hanya aku sendiri, jadi sudah seperti keluarga.

Aku sendiri masih duduk di bangku SMA kelas 2. Tapi karena kebetulan jarak sekolahku lumayan jauh, aku disuruh kost. Pak Hendry sendiri adalah kenalan Bapakku. "Bi, masak apa hari ini..?" dari pada menganggur, kuhampiri Bi Onah di dapur. "Eh, Den Tito, biasa Den.. gulai kambing kesukaannya Tuan Hendry." "Wiih asiik Tito juga suka! Apalagi kalo Bibi yang masak, hmm.. enggak ada duanya Bi!" Si Bibi hanya tersenyum. "Tito bantuin ya?" "Aduh enggak usah, Den! Inikan kerjaannya cewek.." "Kata siapa, Bi. Sekarang mah udah berubah, enggak ada lagi perbedaan kayak gitu. Buktinya direstoran-restoran terkenal kebanyakan tukang masaknya cowok!" "Tapi, Den.." "Udah, enggak apa-apa Bi, dari pada bengong. Sekarang mana yang bisa Tito bantu?" Akhirnya si Bibi nyerah juga.

 
Aku bantuin apa saja sebisaku, motong-motong daging, menggoreng bumbu, wah ternyata asyik juga. "Ada koki baru, nih?" tiba-tiba terdengar suara berat di belakangku, aku menengok, ternyata Pak Hendry. "Eh, Bapak..!" aku jadi malu sendiri, "Dari pada bengong nih Pak, apalagi tadi bete banget!" Pak Hendry hanya tersenyum. "Pakaian Bapak kok basah semua?" "Tadi mobilnya mogok di tengah jalan, ya udah mau enggak mau kudu hujan-hujanan.." Aku terus menatap tubuh Pak Hendry. Dalam pakaian basah seperti itu jelas sekali terlihat bentuk tubuhnya. Di usia kepala empat, Pak Hendry memang masih kelihatan gagah dan kekar. Aku sedikit berdesir melihat tonjolan besar di balik celananya. "Mandi dulu Tuan, nanti masuk angin.." si Bibi tiba-tiba menyela dari belakang. "Iya Pak, lagian Ibu lagi enggak ada, entar siapa yang ngerokin!" "Kan ada kamu!" Pak Hendry tertawa mendengar gurauanku, tetapi kemudian ia segera berlalu ke kamar mandi. Tak lama terdengar suara guyuran air. Tiba-tiba aku membayangkan bagaimana keadaan Pak Hendry waktu bugil, memikirkan itu kontolku langsung mengeras. Malam itu sama sekali aku tidak dapat tidur. Entah kenapa tubuh Pak Hendry yang basah terus terbayang di mataku. Busyet! Kenapa jadi begini? Untung acara TV malam itu lumayan bagus, jadi aku dapat sedikit mengesampingkannya. "Belum ngantuk, To?" Aduh, suara itu lagi. "Eh, belum Pak..!" Aku sedikit gerogi ketika Pak Hendry duduk di pinggirku, padahal dulu-dulu tidak seperti ini. "Acaranya bagus?" Pak Hendry menatapku, oh Tuhan matanya begitu teduh. "Lumayan Pak, buat nyepetin mata yang enggak bisa di ajak kompromi.." Sesaat suasana hening. "Bapak juga kok enggak tidur..?" kucoba memecahkan suasana, "Kangen Ibu, ya?" Pak Hendry tersenyum.

"Saya sudah biasa di tinggal istri, To.." "Sorry, Pak.." Aku jadi merasa tidak enak sendiri. Malam semakin larut dan udara makin terasa dingin, dan kami masih asyik nonton TV, walaupun pikiran saya tidak tertuju kesana. "To, Kepala saya agak pusing.., mau enggak kamu pijitin kepala saya..?" Aduh saya benar-benar tidak tahu harus berbuat seperti apa. Pak Hendry terus menatapku. "I.., iya Pak..!" ujarku sedikit gugup. Aku kemudian berdiri. "Mau kemana?" "Mijitin kepala Bapak.." "Udah kamu duduk disitu aja.." Tanganku ditariknya kembali ke kursi panjang. Sungguh aku tak mengerti. Aku kemudian duduk kembali dan tiba-tiba Pak Hendry merebahkan kepalanya di pangkuanku. Sungguh saat itu aku tidak dapat mengendalikan lagi denyut jantungku. "Di sini, To.." Pak Hendry memegang tanganku dan kemudian diletakkan di keningnya. Untuk sesaat aku terpaku dan kemudian dengan sedikit gemetar memijat keningnya. Kulihat Pak Hendry memejamkan matanya. Dengan takut dan ragu-ragu kuperhatikan wajahnya. Sungguh sangat sempurna. Alis yang rimbun, hidung yang bangir, kumis tebal dan kaku, dagu yang terbelah.., oh Tuhan aku nyaris tak dapat mengendalikan diri. "Oh, Nikmat sekali, To.." Pak Hendry mendesaah perlahan. "Aku jadi ngantuk, boleh tidur disini dulu enggak? Entar kalau acaranya selesai, bangunkan ya!" "Ya, Pak.." Entah mimpi apa aku semalam bisa berduaan seperti ini dengan Pak Hendry. Aku tidak akan menyia-nyiakannya. Tetapi kulihat Pak Hendry tidak juga memejamkan matanya.

"Kenapa, Pak? Katanya mau tidur?" Pak Hendry terus menatapku, aku jadi salah tingkah. "Aku teringat, Diko. Sudah 5 bulan aku tidak ketemu dengannya." "Dia kan sedang kuliah, Pak.." "Waktu kecil dia selalu kupangku seperti ini sambil kubelai rambutnya. Tak terasa anak-anak begitu cepat besar." Kulihat mata Pak Hendry menerawang. "Waktu mereka masih ada, aku tak begitu merasa kesepian seperti sekarang, tapi ya begitulah tugas orang tua, memang cuma membesarkan dan mendidik anak, setelah itu.. Aku bersyukur ketika kemudian kamu kost disini, setidaknya rumah ini tidak begitu sepi lagi." Aku begitu terharu mendengar kata-kata Pak Hendry, begitu menyentuh. Dan tak terasa tanganku bukan lagi memijat, tapi telah membelai rambut Pak Hendry. Pak Hendry memejamkan matanya sepertinya ia menikmati semuanya. "Semua orang tua mungkin pernah merasakan hal yang sama seperti Bapak.." aku mencoba menghibur, "Dan kalau Bapak mau, saya siap untuk menjadi teman bicara Bapak, kapan saja, asal Bapak tidak merasa kesepian.." Pak Hendry membuka matanya.

Dipegangnya tanganku. "Sungguh..?" Aku menganggukan kepalaku. Pak Hendry tersenyum, kemudian ia mencium tanganku. "Thanks.." katanya manis. Ya Tuhan, dadaku seakan mau meledak merasakan hangatnya bibir Pak Hendry disertai gesekan kumisnya di tanganku. Aku bingung harus berbuat apa. Pak Hendry tersenyum melihatku, kemudian ia meletakan tanganku di pipinya. Sejenak aku terpaku. Perlahan kemudian kubelai pipinya yang kasar. Pak Hendry memejamkan matanya. Aku terus membelainya, merasakan jambangnya yang belum dicukur. Aku penasaran sekali dengan kumisnya. "Kumis Bapak bagus.." "Kamu suka..?" "Ya, kelihatannya gagah.." Dengan ragu kubelai kumis Pak Hendry. Ia tetap diam seperti sedang menikmati semuanya. Bibirnya tampak sedikit merekah, begitu indah dan merangsang, serasi sekali dengan kumisnya yang tebal.

Aku sudah tak dapat menahan diri lagi. Perlahan kubelai bibir itu dengan gemetar. Sebenarnya aku takut dianggap tidak sopan, tapi kulihat Pak Hendry tidak ada reaksi apa-apa. Aku semakin berani. Pak Hendry kulihat semakin membuka bibirnya dan tanpa kuduga, tiba-tiba ia mencium jariku dan kemudian menghisapnya dengan perlahan. Aku begitu terpana. Matanya terbuka, ia tersenyum manis kemudian bangkit dari pangkuanku.

Dipegangnya bahuku. "Aku ingin tidur bersama kamu.." Direbahkannya tubuhku di kursi yang sempit. Ia kemudian ikut tidur sambil memeluk tubuhku. Aku teramat merasakan kepadatan tubuhnya yang membuatku semakin nafsu. Ia membelai rambutku. Aku tatap matanya, ia tersenyum, didekatkan kepalanya dan tiba-tiba ia mencium bibirku. Lembuut sekali. Aku memejamkan mata meresapi sensasi yang begitu indah. Ketika kubuka mataku ia sedang menatap wajahku, kemudian dielusnya pipiku, alisku, bibirku, dan kemudian ia menciumku lagi lebih lama. Bibirnya terasa manis, kurasakan lidahnya menelusup di rongga mulutku. Aku merasakan nikmat yang amat sangat, apalagi kumisnya begitu kasar. Kucengkeram punggungnya dengan kuat, nafasku semakin memburu. Pak Hendry benar-benar ahli, aku yang baru pertama kali mengalaminya seperti orang meriang. Pak Hendry tiba-tiba melepaskan ciumannya, ia menatapku dengan mesra. "Kamu menyukainya, To..?" Ya ampun.., kenapa dia harus bertanya seperti itu, sementara nafsuku semakin membuncah. Aku menganggukan kepala seraya membelai lehernya. "Ini yang pertama, Pak.." Aku mendekatkan lagi bibirku dan dengan ganas kembali kulumat bibir jantannya. Kutindih tubuhnya dengan nafsu. "Jangan disini, To.." Aku menghentikan aksiku. Pak Hendry bangkit. Dimatikannya TV, kemudian ia mencium keningku sebelum membopongku ke kamarnya. Aku terpekik sejenak, tapi langsung kupeluk leher Pak Hendry sambil kucium dadanya.

Pak Hendry tertawa kecil. Sesampainya di kamar, dengan perlahan direbahkannya tubuhku. Sambil menindihku Pak Hendry terus menatap mataku dengan mesra, aku sampai tersipu. Kupeluk tubuhnya sambil kugigit lehernya, Pak Hendry sampai terpekik. "Wah, kamu mirip drakula.." Pak Hendry terus menggodaku. "Tapi drakula amatir.." balasku. Pak Hendry tersenyum. Dipijatnya hidungku. "Nih kalau yang profesional!" Tiba-tiba Pak Hendry telah mencium leherku dengan gigitan-gigitan kecilnya. Aku terlonjak, geli tapi nikmat, apalagi kumisnya terasa sekali menusuk-nusuk leherku. Aku mengerang sambil menjambak rambutnya. Aku benar-benar tak kuat. Kakiku langsung kubelitkan di tubuhnya sambil menggeliat-geliat dengan liar. Pak Hendry semakin bernafsu. Kini ia telah membuka bajuku, dijilatinya dadaku. Aku menjerit, benar-benar sensasi baru yang teramat indah. Aku semakin mempererat pelukanku, apalagi saat Pak Hendry mengulum puting susuku, tubuhku sampai melengkung menahan kenikmatannya. "Pak Hendry, oohh.." Pak Hendry seperti tidak perduli dengan keadaanku, ia semakin buas. Tak lama kemudian tubuhku telah telanjang bulat, dan ia benar-benar membuatku tak berkutik. Ketika ia membuka bajunya, aku benar-benar terpana melihat tubuhnya yang masih berotot dengan bulu-bulu yang membelukar, membuatku semakin tak kuat, apalagi saat ia membuka celana dalamnya, oh.., batang kejantanannya begitu besar dan kaku.

Aku sampai ngeri sendiri. Ia kembali menghampiriku dengan nafasnya yang memburu. Aku menyambutnya, kupeluk tubuhnya yang besar. Kubelai punggungnya sambil kuresapi ciumannya. Tangannya begitu nakal, dibelainya pahaku secara perlahan, dan kemudian bergeser ke arah batang kontolku yang tidak begitu besar.

Aku pun tidak mau kalah, kuremas kejantanannya yang seperti pentungan hansip, Pak Hendry mendesah. Aku kemudian melepaskan diri dari pelukannya. Kuciumi batang kejantanan yang begitu gagah, desahan Pak Hendry makin keras. Di ujung kejantanannya yang hitam terlihat mulai keluar cairan bening, aku langsung menjilatinya, terasa asin tapi nikmat. Setelah itu langsung kukulum batangnya. "Ohh.. nikmat sekali, To! Terus, To!" Pak Hendry mencengkram kepalaku. Aku semakin bersemangat, terus kukulum kejantanan itu sambil kumainkan lidahku di ujungnya, dan terkadang kugigit pelan karena gemas. kontol Pak Hendry begitu perkasa. Pak Hendry terus mencengkram kepalaku. Bosan dengan itu kuciumi lipatan paha Pak Hendry, ooh.. terasa sekali bau kelelakiannya. Lama juga aku bermain di situ, kemudian pelirnya kucium dan kukulum, sementara tanganku bermain di anusnya yang dipenuhi bulu. Aku mencoba memasukkan telunjukku, terasa sulit, tapi lama-lama bisa juga. "Terus, to.. oh.., nikmat sekali.." Pak Hendry semakin menggelinjang. Kemudian kubalikkan tubuh Pak Hendry. Kubelai pantatnya yang gempal, kucium dan terkadang kugigit. Oh.. nikmat sekali. Perlahan kubuka bongkahan pantatnya, kemudian kusibakkan bulu-bulunya yang lebat, terlihat anusnya yang mungil kemerahan seakan menantangku untuk mengulumnya.

Langsung saja kujilati anusnya, desahan Pak Hendry terdengar semakin keras, apalagi saat lidahku masuk ke lubangnya dan kemudian menghisapnya. Anusnya terasa harum sekali, sungguh aku sangat menyukainya. "Oh.., Titon, Bapak enggak kuat lagi.." Tiba-tiba Pak Hendry membalikkan tubuhnya, dan kemudian membantingku ke kasur. Diciumnya leherku dengan ganas. "Boleh, Bapak ngentot kamu..?" ia menatapku dengan harap. Aku menganggukan kepalaku. Pak Hendry langsung berdiri, kemudian ia menundukkan kepalanya di selangkanganku, kakiku ditariknya dan kemudian dijilatinya anusku. Oh Tuhan nikmat sekali, apalagi kumisnya kuat sekali menggesek-gesek kulitku. Tak lama ia mengangkat kakiku, kemudian diletakkannya di pundaknya, batang kejantanannya terasa sekali menyentuh anusku. Sesaat aku merasa ngeri membayangkan batang kejantanan Pak Hendry yang besar membobol anusku yang kecil, tapi nafsu telah mengalahkan segalanya. Pak Hendry sendiri tampaknya kesulitan memasukkan kejantanannya. Ia kemudian memakai ludahnya untuk dijadikan pelumas, tak lama batang itu mulai masuk, aku menjerit kesakitan. "Tahan dulu Sayang, Nanti juga tidak sakit.." Aku menganggukan kepalaku. Batang kejantanan Pak Hendry makin masuk dan aku makin kesakitan. Pak Hendry kemudian menciumbibirku sambil terus memasukkan kontolnya. Ketika semuanya telah masuk, jeritanku semakin keras. Kemudian kugigit lehernya.

Aku menangis kesakitan. Pak Hendry diam sejenak, mencium bibirku, menjilati leherku dan mengulum telingaku. Sejenak aku melupakan rasa sakit itu. Ketika aku tidak menjerit lagi, ia mulai menggerakan batang kejantanannya. Kembali aku menangis kesakitan. "Sabar Sayang.., nanti juga kau akan merasakan nikmat.." Pak Hendry berusaha menghiburku sambil terus memberiku rangsangan-rangsangan. Memang benar apa yang dikatakan Pak Hendry, lama-lama aku merasakan nikmat juga. Perlahan kuimbangi gerakan Pak Hendry sambil kubelai punggungnya yang liat. Keringat Pak Hendry tampak sudah membanjir. "Terus Pak.., terus..!" Aku semakin merasa keenakan. Kupeluk tubuh Pak Hendry makin erat, kucium ketiaknya dan kugigit lengannya. "Oh.., anusmu nikmat sekali, Sayang.." Gerakan Pak Hendry semakin liar, digigitnya leher dan dadaku hingga membekaskan noda merah. Terasa sekali batang kejantanannya dengan kuat menyodok-nyodok anusku.

 "Gimana Sayang.., apakah masih merasa sakit..?" "Enggak Pak, nikmat sekali.." Kugigit puting Pak Hendry yang berwarna kemerahan. Kusedot-sedot hingga gerakan Pak Hendry semakin cepat. Pantatnya yang gempal kembali kubelai, kuremas dan kubelai bulu kontolnya sambil memainkan anusnya. Sesekali jariku menusuk-nusuk anusnya. "Aku tak kuat lagi Tito.." Tubuh Pak Hendry tampak gemetar, kemudian ia memelukku dengan erat sambil menggigit dadaku. Dan kurasakan denyutan keras di anusku disertai semburan hangat. Ketika semuanya reda, Pak Hendry tetap memelukku, kubelai dan kuseka keringat di wajahnya. Kemudian kembali kubelai rambutnya.

Pak Hendry memejamkan matanya. "Terima kasih Sayang, aku puas sekali..!" Diremasnya pundakku tanpa membuka matanya. "Kamu ingin juga dikeluarkan..?" tiba-tiba Pak Hendryi membuka matanya dan menatapku. Aku menggelengkan kepala, "Enggak usah sekarang, Pak.." aku tersenyum, "Aku hanya ingin membahagiakan Bapak.." Pak Hendry kemudian mencium pipiku dengan mesra. "Lebih menyenangkan memeluk Bapak seperti ini.." Kembali kurengkuh tubuh itu dengan kuat, kubelai sampai kemudian Pak Hendry tidur di dadaku. Oh.., bahagia sekali rasanya hatiku, dan ini bukan mimpi. Kami terus melakukan hal itu sampai saya lulus dari SMA, dan kemudian kuliah di luar kota. Sejak itulah kami jarang bertemu, tapi saya akan terus mengingat Pak Hendry, karena saya amat mencintainya. Dan entah mengapa sejak saat itu saya lebih bernafsu dengan melihat tubuh cowok yang lebih dewasa atau bapak-bapak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar